Saturday, March 11, 2017

pemeriksaan bilirubin



       I.      
       I.            Pembhasan

Hati merupakan organ yang mempunyai peranan vital dalam proses metabolisme dan detoksifikasi. Kerusakan pada hati dapat berakibat fatal bagi tubh, sehingga perlu dideteksi adanya kerusakan hati dimana salah satu pengujiannya dapat dilakukan secara sederhana dengan pemeriksaan kadar bilirubin. Hati merupakan organ yang mempunyai peranan vital dalam proses metabolisme dan detoksifikasi. Kerusakan pada hati dapat berakibat fatal bagi tubh, sehingga perlu dideteksi adanya kerusakan hati dimana salah satu pengujiannya dapat dilakukan secara sederhana dengan pemeriksaan kadar bilirubin.

Bilirubin sebagian besar berasal dari heme pada hemoglobin yang dilepaskan pada saat terjadi kerusakan pada sel darah merah yang sudah tua yaitu sekitar 120 hari. Langkah awal pemecahan gugus heme ialah pemutusan jembatan alfa metena membentuk biliverdin suatu terpenoid linier. Besi mengalami beberapa kali reaksi reduksi dan oksidasi, reaksi-reaksi ini memerlukan oksigen dan NADPH. Pada akhir reaksi dibebaskan Fe3+ yang dapat digunakan kembali, karbon monoksida yang berasal dari atom karbon jembatan metena dan bilverdin. Biliverdin, suatu pigmen berwarna hijau akan direduksi oleh biliverdin reduktase yang mengandung NADPH sehingga rantai metenil menjadi metilen antara cincin pirol III-IV dan membentuk petunjuk reaksi degradasi ini (Israr, 2010)

Bilirubin yang terbentuk dari pengurain heme ini adalah bilirubin tak terkonjugasi yang tidak larut dalam air. Bilirubin tak terkonjugasi ini diikat oleh albumin dan protein lain, kemudian beredar melalui peredaran darah. Setibanya di dalam hepar, bilirubin tak terkonjugasi dilepas oleh hepar dari albumin, kemudian digabung dengan glukoronid sehingga dapat melarut dalam air dan disebut bilirubin terkonjugasi. Melalui kanakuli, bilirubin terkonjugasi ikut dengan empedu dan masuk ke vesika felea dan duodenum. Dalam, duodenum, bilirubin terkonjugasi diubah menjadi uribilinogen. Sebagian uribilinogen ini dikerluarkan melalui feses dalam dalam bentuk sterkonilin, yang memberi warna pada fese dan diabsorbsi. Setelah itu direabsorbsi, setibanya di dalam hepar, hepar melepaskannya kedalam darah untuk diambil kembali, yang lain dikeluarkan melalui urine ( baradero et, al , 2008)
Pada percobaan kali ini dilakukan pemeriksaan fungsi hati dengan metode pemeriksaan kadar bilirubin. Bilirubin dapat digunakan sebagi salah satu parameter pemeriksaan fungsi hati karena bilirubin merupakan hasil pemecahan heme dari sel darah merah akan mengalami konjugasi di hati dengan asam glukoronat dengan bantuan enzimuridyl diphospahte glucoronyl transferasi (UDGPT) sehingga menjadi bilirubin-glukoronat yang lebih larut air (bilirubin direk) akan disekresikan ke empedu untuk mengemulsikan lemak diusus. Apabila ada gangguan fungsi hati, jumlah bilirubin indirek (hasil pemecahan heme) akan banyak terdapat didarah, sedangkan jumlah bilirubin direk sedikit terbentuk akibatnya bilirubin yang tidak larut air akan berikatan dengan direk protein jaringan pada kulit, mata dan jaringan lain yang menimbulkan warna kuning pada jaringan tersebut.
Pada praktikum ini dilakukan pengukuran kadar bilirubin total serta bilirubin terkonjugasi dengan metode evelyn-malley. Absorban yang diukur yaitu absorbansi larutan uji bilirubin total dan larutan uji bilirubin terkonjunggasi.
Pada pengujian kadar bilirubin total, pertama tama dilakukan pembuatan blanko sampel. Blanko sampel dibuat dengan mencampurkan serum dengan asecelerator lalu ditambahkan diazo blank. Pembuatan larutan blanko bertujuan untuk kalibrasi atau sebagai larutan pembanding dalam analisis. Biasanya lartutan blanko tidak berisi larutan yang dianalisis hanya berisi pelarut dan reagen yang dilakukan untuk mengkalibrasi spektrofotometri, akan tetapi pada praktikum ini blanko yang digunakan ditambahkan sampel dengan jumlah yang sama seperti larutan uji yaitu 50 mikro liter dan menggunakan diazo blank, hal tersebut dilakukan agar pengujian yang dilakukan lebih spesifik karena bilirubin merupakan zat dengan pigmen warna kuning yang menyebabkan kemungkinan adanya gangguan senyawa lain yang mempunyai intensitas warna yang sama kemudian jadi pengotor ketika pengujian dengan spektrofotometri. Serum yang digunakan dalam percobaan ini adalah serum tidak mengandung fibronogen tetapi masih terkandung selain bilirubin seperti karoten, xantofil dan hemoglibin maka dilakukan dengan metode evelyn-malloy untuk pasien dewasa , sedangkan apabila serum digunakan dalam pemeriksaan kadar bilirubin pada bayi yang menggunakan spektorskopi yang sebelumnya diencerkan dengan larutan fisiolgis sampai warna nya sebanding dengan larutan kalium dikromat 0,01% yang disebut icterus index,  maka serum yang didalam nya terkadung selain bilirubin seperti karoten, xantofil dan hemoglibin juga dapat memberikan kontribusi yang menggagu hasil yang mungkin tidak valid pada icterus index. Sedangkan asecelerator digunakan untuk memutus ikatan , asecelerator yang digunakan dalam percobaan ini yaitu methanol 50% dikarenakan menggunakan metode evelyn-malloy. Metanol 50% dalam asecelerator yang digunakan tujuan nya untuk memutus ikatan antara bilirubin dan albumin dan yang kedua dilakukan pembuatan larutan uji dengan menambahkan serum , ascelerator namun perbedaan nya dalam larutan uji ditambahkan reagen diazo diperoleh dengan cara mereaksikan asam sulfanilat dengan natrium nitrit yang akan membentuk diazobenzensulfonat yang dapat digambarkan pada reaksi :

Asam sulfanilat + natrium Nitrit          diazobenzensulfonatρ

Setelah terbentuk -diazobenzensulfonat, maka -diazobenzensulfonat akanbereaksi dengan billirubin yang terdapat pada sampel sehingga terbentuk azobilirubin yang berwarna biru yang kemudian intensitas warnanya dapat diukur dengan spektrofotometri. adapun reaksinya dapat digambarkan pada reaksi dibawah ini:

p-diazobenzensulfonat + Billirubin         Azobilirubin

Pada pengujian kadar bilirubin direk , pertama – tama dilakukan pembuatan blanko sampel yang didalamnya terdapat serum,  aquadest, dan diazo blank. Aquadest ditambahkan dalam larutan blanko pada pengujian bilirubin direk bertujuan untuk menyamakan volume dengan larutan uji dan larutan blangko karena pada saat pengujian perlakuan yang diberikan harus sama, aquadest dipilih untuk digunakan  karenakan bilirubin direk bersifat larut dalam air sehingga dapat tercampur dengan baik, sedangkan yang kedua dilakukan pembuatan larutan uji yang didalam nya terdapat serum , aquadest dan reagen diazo. larutan blanko sampel dan larutan standar baik pemeriksaan bilirubin total maupun direk telah ditambahkan reagen diazo terakhir karena setelah terbentuk p-diazobenzensulfonat, maka diazobenzensulfonat   akan bereaksi dengan billirubin yang terdapat pada sampel sehingga terbentuk azobilirubin yang   berwarna   biru   sehingga  intensitas   warnanya   dapat   diukur   dengan spektrofotometer. selanjutnya dilakukan fortex selama 1 menit setelah itu disimpan dalam laci yang tidak bisa ditembus cahaya.
Suhu dan waktu inkubasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesetimbangan reaksi oleh karena itu campuran harus difortex dan di tunggu 10 menit pada suhu kamar (20-25°C),  difortex 1 menit berguna untuk menghomogenitas campuran larutan sehingga reaksi yang terjadi dapat berjalan merata hingga diperoleh kesetimbangan reaksinya dan 10 menit disimpan didalam laci hal tersebut dilakukan karena faktor luar yaitu cahaya dapat menggangu reaksi enzimatis yang sedang berlangsung, sehingga tercapainya kesetimbangan  reaksi, pemeriksaan harus dilakukan dengan teliti dari mulai memasukan bahan-bahan sampai memperhatikan waktu yang tidak boleh melebihi waktu yang telah ditetapkan hal tesebut dapat berpengaruh terhadap hasil yang akan diperoleh. Apabila waktu pemeriksaan lebih dari yang ditentukan akan mengakibatkan hasil nilai absorbansi tidak sama rata dikarenakan apabila lebih lama akan banyak yang bereaksi dan nilai absorbansi akan lebih besar atau terjadinya pengurain dan pencemaran dikarenakan waktu yang berlebih. Kemudian setelah 10 menit di ukur absorbansinya, semakin tinggi absorbansi   maka   semakin   banyak   billirubin   yang terkandung dalam darah.
Pada pada perinsipnya pengujian kadar billirubin total memerlukan waktu inkubasi yang lebih  lama dibandingkan pada pengujian kadar billirubin terkonjugasi. Hal tersebut terjadi karena pada pengujian kadar bilirubin total diperlukan waktu untuk mengubah bilirubin yang terikat dengan albumin menjadi bilirubin bebas sehingga waktu   inkubasinya   lebih   lama   dibandingkan   dengan   pengujian   kadar   bilirubin terkonjugasi yang tidak ada reaksi pemecahan bilirubin dengan bantuan accelerator. Akan tetapi pada percobaan ini  waktu inkubasi bilirubin total dan bilirubin direk sama yaitu 10 menit.
Setelah didiamkan selama 10 menit dalam suhu ruangan pada pengujian kadar bilirubin total dan pengujian kadar bilirubin terkonjuugasi,  maka larutan uji  dan  blanko  sampel dimasukkan  kedalam  spektrofotometri.  Ketika  larutan  uji dimasukkan   dalam   spektrofotometri,   maka   terjadi   penyerapan   gelombang elektromagnetik pada daerah visible (380-780 nm) yaitu pada panjang gelombang 546 nm oleh senyawa yang memiliki gugus kromofor yang terdapat dalam larutan uji (Azobilirubin). Karena cahaya yang ditembakkan mengandung energi (E= h. c/ )λ menyebabkan   terjadinya   eksitasi   elektron   molekul   tersebut   dari   keadaan   dasar (ground state) ke tingkat energi yang lebih tinggi. Ketika elektron-elektron tersebut tereksitasi, maka spektrofotometer menghasilkan nilai absorbansi, dimana absorbansi ini setara dengan jumlah energi yang dioabsorpsi oleh molekul untuk mengeksitasi elektron dari keadaan dasar ke tingkat energi yang kebih tinggi.
Proses eksitasi elektron dari ground state ke tingkat energi yang lebih tinggi terdapat berbagai persyaratan yang harus dipenuhi dalam suatu pengujian baik secara   kualitatif   ataupun   kuantitatif.   Syarat   tersebut   terdiri   dari   spesifisitas, sensitivitas, presisi dan akurasi. Akurasi adalah kemampuan metode untuk mengukur dan   mendeteksi   nilai   aktual   atau   nilai   sebenarnya   dari   dalam   sampel,   akurasi
merupakan   ukuran   ketepatan  atau   kedekatan   hasil   pengujian   dengan  hasil  yang sebenarnya. Presisi   adalah   tingkat   kesesuaian   antara   hasil   pengujian   individual dengan hasil rata-rata pengujian berulang pada sampel yang homogen dengan kondisi pengujian yang sama. Sensitifitas atau kepekaan adalah kemampuan metode untuk mendeteksi atau mengukur sampel dalam jumlah sekecil mungkin. Spesifisitas adalah kemampuan metode untuk meendeteksi atau mengukur sampel tertentu secara cermat dan seksama dengan adanya bahan atau matriks lain. (Ibrahim, 2010).
Dalam praktikum ini didapatkan nilai absorbansi untuk larutan uji bilirubin total 0,131 A sedangkan larutan uji untuk bilirubin direk 0,058 A. Setelah dilakukan perhitungan hasil dari bilirubin total yang dikalikan faktor kalibratornya yaitu 5,895 mg/dL sedangkan perhitungan hasil dari bilirubin direk yang dikalikan faktor kalobratornya yaitu 0,29 mg/dL. Dari hasil yang diperoleh pada pemeriksaan bilirubin total melebihi nilai rujukan pada pasien dewasa yang normal yaitu 0,1±1,2 mg/dL. Peningkatan kadar bilirubin total menunjukkan bahwa  kadar bilirubin  indireknya  juga  tinggi.